Dialektik News — Ribuan masyarakat memadati lokasi pelaksanaan peringatan satu dekade Program Ibadah Subuh Bersama (PISB) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), dalam sebuah momentum religius yang berlangsung khidmat sekaligus penuh antusiasme.
Perayaan 10 tahun program unggulan daerah itu terasa semakin istimewa dengan hadirnya pendakwah nasional, Ustadz Abdul Somad (UAS), yang memberikan tausiyah keagamaan di hadapan jamaah dan masyarakat yang datang dari berbagai wilayah di Bolsel.
Kehadiran UAS tidak hanya menjadi magnet bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan suasana spiritual yang begitu kuat dalam momentum refleksi perjalanan PISB yang telah berjalan konsisten selama satu dekade terakhir.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Bolsel Iskandar Kamaru, Wakil Bupati Deddy Abdul Hamid, unsur Forkopimda, Kepala Kantor Kementerian Agama Bolsel Thaib Mokobombang, pimpinan instansi vertikal, Ketua TP-PKK Selpian Kamaru-Manoppo, Sekretaris TP-PKK Rosdiana Abdul Hamid-Lapatola, para pimpinan OPD, jajaran ASN, hingga tokoh agama dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Bupati Iskandar Kamaru menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan program PISB yang hingga kini tetap terjaga dan menjadi identitas religius masyarakat Bolsel.
Ia menegaskan, keberhasilan mempertahankan program tersebut selama 10 tahun bukanlah perkara mudah, melainkan hasil dari komitmen bersama antara pemerintah daerah, ASN, dan masyarakat yang terus menjaga semangat kebersamaan serta nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sosial.
“PISB bukan sekadar program seremonial pemerintah daerah. Ini sudah menjadi budaya religius masyarakat Bolsel yang terus hidup dan dijaga bersama,” ujar Iskandar di hadapan jamaah.
Bupati juga mengenang sosok almarhum Herson Mayulu sebagai penggagas awal program tersebut pada tahun 2016 silam. Menurutnya, semangat yang diwariskan mantan pemimpin daerah itu masih terus dirawat hingga sekarang.
“Alhamdulillah, program yang dirintis sejak 2016 tetap berjalan konsisten sampai hari ini. Ini menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan nilai keagamaan di Bolsel masih sangat kuat,” katanya.
Suasana haru dan penuh kekeluargaan semakin terasa ketika Bupati Iskandar menyampaikan ucapan selamat datang kepada Ustadz Abdul Somad yang untuk pertama kalinya hadir langsung dalam momentum besar keagamaan di wilayah paling selatan Provinsi Sulawesi Utara tersebut.
Ia mengungkapkan, kehadiran UAS di Bolsel melalui proses komunikasi yang cukup panjang bersama tim sejak beberapa bulan terakhir.
“Alhamdulillah malam ini menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Bolsel. Kehadiran Ustadz Abdul Somad menjadi berkah tersendiri bagi peringatan satu dekade PISB,” ungkapnya.
Program PISB sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu program religius yang unik di Sulawesi Utara. Tidak hanya berfokus pada kegiatan ibadah umat Islam, program tersebut juga melibatkan seluruh umat beragama sesuai keyakinan masing-masing.
Umat Islam melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, umat Kristen beribadah di gereja, sementara umat Hindu menjalankan ibadah di pura. Model pelaksanaan itu dinilai menjadi simbol kuat toleransi dan moderasi beragama yang terus dijaga di Bolsel.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Abdul Somad mengaku kagum terhadap konsistensi pemerintah daerah dan masyarakat Bolsel dalam menjaga program keagamaan yang mampu bertahan hingga satu dekade.
Menurut UAS, PISB bukan hanya sekadar agenda rutin daerah, tetapi telah menjadi contoh nyata bagaimana nilai religius dapat berjalan berdampingan dengan toleransi antarumat beragama.
“Saya melihat ini bukan hanya program biasa. Ini adalah gerakan moral dan spiritual yang sangat baik untuk menjaga persatuan masyarakat,” ujar UAS disambut takbir jamaah.
Bahkan, UAS secara terbuka mengajak daerah lain di Indonesia untuk mencontoh konsep PISB yang dinilai mampu memperkuat hubungan sosial masyarakat sekaligus membangun karakter religius di tengah tantangan zaman modern.
Dalam momentum tersebut, UAS juga menyampaikan 10 catatan penting terkait keberlanjutan PISB ke depan. Catatan itu menjadi bentuk refleksi sekaligus penguatan agar program tersebut tidak hanya bertahan sebagai agenda tahunan, tetapi terus berkembang menjadi gerakan sosial dan spiritual masyarakat.
Peringatan satu dekade PISB akhirnya bukan hanya menjadi seremoni perayaan program pemerintah, melainkan juga penegasan bahwa Bolsel sedang membangun identitas daerah berbasis religiusitas, toleransi, dan kebersamaan masyarakat. (Infotorial)
















